Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label kolaborasi

INSAN(G)

Redmiller Experience: The Great Ocean Stories “The heart of man is very much like the sea, it has its storms, it has its tides and in its depths it has its pearls too” – Vincent Van Gogh. Selamat datang di ekspedisi laut Redmiller Blood. Siapkan energi, pantik semangat, dan sambutlah The Great Ocean Stories. Temukan perahu ajaib lalu naiklah ke sana. Mari kita melaut dengan dayung imajinasi.  

Kawan Perjalanan - lirik untuk Parahyangan Orchestra

  Dea selalu terpesona sama sejauh apa kolaborasi bisa memperluas ruang jelajah karya. Waktu nulis "Kawan Perjalanan", yang ada di pikiran Dea sesederhana cherish the moment . Kita nggak pernah tau idup di depan bakal kayak apa, apakah temen kita bakal berbeda prinsip sama kita, apakah kita masih akrab sama orang-orang yang sekarang sahabat kita, atau justru ketemu temen baru yang lebih ngeklik, but it's ok. Lirik Dea adalah teks yang "dingin". Dia "berdenyut" direspons komposisi Gavin Wiyanto dan "bernapas" waktu disuarain Parahyangan Orchestra alias Parchestra dan PSM Universitas Parahyangan. "Temponya aku lambatin, yang penting ekspresinya keluar," kata Alfonsus Albert , pengaba PSM Unpar yang ngaba "Kawan Perjalanan". Sementara Gavin punya interpretasi kalimat per kalimat. Lewat keterampilan bahasa musik dan pengalaman-pengalamannya sendiri, jadi ada lebih banyak cerita yang tersampaikan. Semua yang ambil bagi...

The Lonely Clown

Once upon a time, there was a town that filled with joy and laughter.  The citizens were clowns. They had red nose and well-known as skillful jugglers. When every baby clown was born, Circus Fairy gave them different gifts.  Dongeng simfonik adalah perpaduan dongeng dan komposisi orkestra. Formatnya, seorang narator membacakan cerita, sementara orkestra mengiringi dengan musik yang ilustratif. Dalam pementasannya, karya ini kerap dilengkapi pertunjukan teater dengan panggung menarik.    "The Lonely Clown" adalah dongeng simfonik yang diproduksi oleh B andung Philharmonic Orchestra dan berkolaborasi dengan Red Nose Foundation .  Liputan pertunjukan ini dapat dibaca di The Asian Par ents   Though the gifts were different, to every Baby Clown, Circus Fairy always whispers a same message, “Dear Little Clown, one day, you must use the gifts for good things…”   View this post on Instagram ...

Iris

Iris adalah kolaborasi Lala Bohang dan Sundea pada awal tahun 2012, untuk proyek 12for2012 . Paket Iris ini terdiri dari ilustrasi Lala dan cerita Sundea. Karya ini ditulis dengan sistem "jamming".  Dimulai dari ilustrasi Lala, direspons oleh cerita Dea, direspons lagi oleh ilustrasi Lala, begitu seterusnya sampai kami merasa perlu menutup kisah tersebut. Buku kecil elektronik yang di- layout oleh Lala sendiri dapat diunduh di sini .

Behind Those Eyes

Alkisah, di tengah dunia yang warna-warni seperti mimpi, hiduplah sosok menggemaskan berambut merah, Red Miller Blood namanya. Ia selalu bimbang dan merasa kecil. Akibatnya, belantara warna dengan mudah menelannya. Padahal tahukah kamu Red Miller Blood lebih luas daripada pancarona yang melingkupinya? Red Miller Blood menanggung semesta. Ia palka gelap dengan segala bagasinya, rampai kisah yang teruntai menjadi gugus bintang, dan rangkaian sebab-akibat yang membentuk jati diri spesifiknya. Mata Red Miller Blood merupakan jendela menuju semestanya, sementara “Behind Those Eyes” adalah wahana jelajah  yang mengantar kita menelusuri perjalanan transformasi Red Miller Blood. Chaotic Garden Di perhentian pertama tur ini kita berhadapan dengan tekanan sosial atau peer pressure yang dihadapi Red Miller Blood. Kita menyaksikan Red Miller Blood mengorbankan kesehatan mentalnya hanya untuk diterima dan dicintai oleh belantara warna yang mungkin tak pernah sungguh-sungguh mencintainya. Ia sea...

Narasi Visual Meditasi

Pillow Art adalah salah satu aktivasi di rangkaian wahana "Behind Those Eyes". Peserta dikasih bantal bentuk kepala Redmiller, abis itu boleh ngerespons si bantal sekehendak hatinya. Sebelum ngerespons, peserta diajak masuk ke dalem dirinya, ngeliat apa yang sungguh penting buat mereka, dan ngelepasin  atribut serta tuntutan (atau yang mereka pikir tuntutan) sosial.  Aktivasi yang dibagi dua kloter ini sempet bikin Dea agak bingung. Dea nggak tau gimana cara ngajak peserta masuk ke dalam dirinya. Setelah ngevaluasi kloter pertama, lahirlah ide bikin sesi meditasi visual. Narasinya disesuaikan sama konteks dan tujuan Redmiller Blood.  Dea belum pernah nuntun orang meditasi visual sama sekali. Tapi berhubung konon salah satu kuncinya narasi, Dea coba pelajarin dan bikin ini:

"Kian Sempurna" untuk Tis the Season

    Beberapa tahun terakhir Dea langganan nulis lirik untuk @apertosingers . Biasanya musiknya digarap Ken Steven. Buat Dea, sungguh kehormatan bisa bersanding karya dengan @st.25ken . Bikin lirik untuk #apertosingers selalu personal dan menyenangkan. Sebelum nulis, biasanya Dea ngobrol dulu sama direktur musiknya: Ci @fatmawatidjunaidi , nanya apa yang mau Aperto ceritain, apa yang sedang jadi kegelisahan mereka, baru setelah itu hasil obrolannya diterjemahkan ke dalam lirik.

Zoomsical Bianglala

  Di tahun 2020, serentak pijar dunia meredup.    Gelap menyelimuti ketika pandemi datang. Berbagai aktivitas lumpuh total. Mereka yang hidup dari panggung ke panggung kehilangan mata pencaharian. Anak-anak yang biasa beraktivitas di luar harus menghabiskan banyak waktu di rumah. Namun, mereka yang menolak dilumpuhkan mencari jalan untuk tetap bergerak. #Zoomsical tercipta sebagai format pertunjukan musikal yang masuk akal di masa pandemi. Anak-anak mengganti aktivitasnya dengan belajar banyak hal baru dari rumah. #Zoomsicalbianglala lahir sebagai pendar kecil bagi siapa pun yang ingin berdiang di sekitarnya.    “Cerita tidak terhindar saat mentari meredupkan pijar” Tapi, bukankah banyak inspirasi yang justru berangkat dari cerita? 

Nostalgia

"Dea, waktu nulis 'Nostalgia', kan judul awalnya 'Pulang'. Apa yang mendasari bikin liriknya?" tanya Ci Fatma, pengaba dan direktur musik Aperto Singers. "Nggak tau hahaha. Isi liriknya apa juga aku udah lupa, parah deh Ci :)) "Ini..." Ci Fatma kemudian mengirim lirik lagu yang Dea tulis untuk Aperto Singers.  

250 Tahun Mbah Beethoven

Di Bandung Philharmonic Children Performance edisi 250 tahun Beethoven, ada selingan cerita-cerita Beethoven. Supaya atraktif, si cerita hadir dalam bentuk sandiwara boneka sederhana. Dea bertugas bikin ceritanya. Karena nggak tau banyak tentang tokoh musik klasik, Dea ngelakuin riset kecil-kecilan. Riset itu ternyata bikin Dea terkesan banget sama karakter Mbah Beethoven. Dia pemarah, tapi loveable. Jenius musik yg tumbuh di bawah tekanan. Agak sarkastik, tapi buat Dea nggak terkesan berracun kayak nyinyiran medsos jaman sekarang. Sebagai orang Batak, Dea ngerasa marah-marah dan celetukan Beethoven mirip ompung-ompung. Meskipun belum tau bener apa enggak, konon kata-kata terakhirnya sebelum meninggal adalah: "Applaud, my friends, the comedy is over..." Beethoven berlomba dengan waktu. Dia terus berkarya sambil pelan-pelan keilangan pendengarannya. "Symphony no.9" yang lebih kita kenal dengan "Ode to Joy" adalah karya besar terakhir beliau, yang di...

60 Tahun SMAK 1 BPK PENABUR: Pesta Diamond

Sebetulnya ini proyek pertama Dea di taun 2025, tapi karena ulang tahun SMAK 1 BPK Penabur Bandungnya akhir tahun, lagunya pun baru rilis akhir tahun ini. Ada beberapa rikues untuk isi liriknya. Misalnya tema bersyukur, bersekutu, dan berdampak serta nama SMAK 1 BPK PENABUR yang hadir lengkap. Lumayan tantangan juga, tapi Dea coba dan berikut ini hasilnya: Verse 1 (bersyukur): Kita keluarga Mensyukuri semua SMAK 1 BPK PENABUR Bandung yg tercinta Jalan yang tak mudah serta pelangi indah Semua adalah berkat yang menjadikan kuat Yang t'lah lalu jadi kenangan Yang kan datang jadi harapan Raya pendar cahaya Pancarkan kirana surga  Oh... Verse 2 (bersekutu): Kita keluarga  punya banyak cerita SMAK 1 BPK PENABUR Bandung yang tercinta Berkumpul bersama  peluk hangat dan mesra Rintangan bukan halangan Jika bergandeng tangan Yang t'lah lalu jadi kenangan Yang kan datang jadi harapan Raya pendar cahaya Pancarkan kirana surga  Oh... Verse 3 (berdampak): Kita keluarga punya sebua...

Little Bird Stories

Aku adalah burung kertas yang terbang dibawa angin. Tapi ini bukan kisahku. Aku akan bercerita tentang burung-burung kecil yang kutemui di sepanjang perjalanan. Sayap-sayap mereka adalah talenta. Ketika dikepakkan dengan tangguh dan berani, mereka dapat terbang ke mana saja. Cerita mereka akan kubagikan kepadamu. Maukah kamu menyimaknya?

Daur - Be-A-Part

  Be A-part, sebuah proyek latihan virtual yang ditujukan untuk menyemangati teman-teman pelaku musik agar tetap berlatih dari rumah masing-masing di masa pandemi ini. Pada latihan perdana ini, kami menggunakan lagu orisinil karya Fauzie Wiriadisastra dan Sundea yang berjudul Daur.  Lirik: Pada suatu ketika nanti, kita akan mengingat hari ini  Sebagai hening yang paling bening, sebagai fajar menjemput pagi  Pada suatu ketika nanti, kita akan mengingat hari ini  Sebagai rantai kasih manusia, yang menguntai doa yang sama  Peradaban tak pernah jera mencari cara tuk pulihkan,  yang lekang dan yang usang, yang lekang dan yang usang, dan yang usang.  Pada suatu ketika nanti, kita akan mengingat hari ini Sebagai ranggas menyambut tunas.  Kelak setelah wabah terentas...  ==== Ada bonus buku elektronik Salamatahari #4 yang Dea buat untuk menemani karya ini. Bisa diunduh di sini .  

Beri Cinta Kepada Laut

"Beri Cinta Kepada Laut" adalah salah satu lagu yang ditulis bersama Si Ikan Paus untuk konser anak-anak Bandung Philharmonic "Under Our Sea".  Tentang konser "Under Our Sea"-nya Dea tulis di sini . Jangan pernah membeli tukik, si langka yang bersirip apik  Pisahkanlah sampah-sampahmu agar tak hanyut ke laut biru  Beri cinta kepada laut dengan cara yang kamu bisa  Beri cinta kepada laut dengan cara yang kamu bisa  Penyanyi: Eunike Sylvia  Musisi: Bandung Philharmonic Strings Quartet  M Januar Affandi D - violin 1  Fiola Rondonuwu -violin 2  Angga Aditia -viola  Widya Febiyanti - cello    Musik: Fauzie Wiriadisastra Lirik: Sundea 

Gadis Kepala Kardus

Adik Karet

   

Jari-jari Drupadi

Tulisan ini merupakan bagian dari proyek kolaboratif  Drupadi.id . Dibacakan dengan teatrikal dan powerful di Contrastcoffee oleh the one and only Naomi Arsyad .   Drupadi mengamati kelima jari tangan kanannya. Semua ia namai sesuai dengan nama kelima pacarnya. “Bima, Yudhistira, Arjuna, Nakula, Sadewa,” gumam Drupadi sambil mengurutkan jari-jarinya dari jempol sampai kelingking. Senyum terbit di bibir Drupadi ketika mengingat mereka satu persatu. Sambil mulai mengecat kukunya dengan kuteks merah, Drupadi membayangkan wajah setiap mereka. Pertama-tama Drupadi menguteks kuku jempolnya. Bima. Bima bukan yang paling ganteng, tapi tubuhnya paling besar dan berisi. Nah. Cinta Bima pada Drupadi sama besar dan berisinya dengan tubuhnya itu. Bima bukan kesayangan Drupadi, tapi Drupadi selamanya menjadi kesayangan Bima. Bima memanjakan Drupadi. Bima memuja Drupadi. Meskipun cukup mandiri, Drupadi senang bermanja-manja dengan sikap heroik Bima kepadanya. “ Like ...

Perempuan-perempuan yang Mendengarkan Detak Jantungnya

Kuratorial untuk pameran "Tafsir Rupa dan Gerak Bukan Perawan Maria".  Katalog lengkapnya dapat diunduh di sini .              Perjalanan kumpulan cerita pendek “Bukan Perawan Maria” berangkat dari pertanyaan Feby Indirani kepada dirinya sendiri: “Apa sebetulnya tradisi saya?”             Darah Minang, Batak, dan Sunda mengalir di tubuhnya. Ia tumbuh di lingkungan urban dan hidup di tengah berbagai budaya yang saling mempengaruhi. Setelah menelusuri dan berkontempelasi, Feby sampai kepada simpulan ini: “Islam adalah tradisi saya”.              Tradisi berpangkal pada hal-hal substansial yang tak terpisah dari diri Feby. Mempertanyakan dan menggalinya menghasilkan sembilan belas cerita dalam kumpulan cerita pendek “Bukan Perawan Maria”.         ...

Once We Were Dreamers

  Semua berawal dari liat gambar-gambarnya Hilman Hendarsyah di Semata Gallery. Karena suka banget gambarnya, mainlah Dea ke sana bareng Mbak Danti untuk nonton pamerannya. Di sela ngobrol-ngobrol lucu, Omen dari Semata cerita kalau karya ini mau dijadiin buku. Omen nanya, mau nggak Dea bikin teksnya. Tanpa mikir-mikir Dea langsung mau. Di luar dugaan, gambar yang tadinya cuma 22 biji berkembang jadi 100 😱. Kutaksanggup nulis untuk 100 gambar dan bikin kategori. Akhirnya temen-temen dari Semata Gallery ngebagi 100 gambar ini jadi 10 seri. Terkumpullah sepuluh penulis yang nggak tau gimana perempuan semua untuk ngerespon karya ini. Salah satu penulisnya, Audya Amalia, mengoordinasi kami semua supaya penulisannya jadi sistematis. Makasih ya, Neng 😙 Hasilnya seru sekali. Meskipun gambarnya kayak ilustrasi anak-anak, nggak semuanya cerita anak-anak. Beberapa di antaranya bahkan serius banget bicara tentang kehidupan. Tapi justru di situ serunya. Karya ini jadi kolaborasi yang...

Carnival of the Animals

 Sajak anak-anak untuk setiap bagian di komposisi "Carnival of the Animals". Dibacakan pada konser "Carnival of the Animals" Bandung Philharmonic Orchestra 20-21 Januari di IFI Jakarta dan Bandung