Langsung ke konten utama

Little Bird Stories

Aku adalah burung kertas yang terbang dibawa angin. Tapi ini bukan kisahku. Aku akan bercerita tentang burung-burung kecil yang kutemui di sepanjang perjalanan. Sayap-sayap mereka adalah talenta. Ketika dikepakkan dengan tangguh dan berani, mereka dapat terbang ke mana saja.

Cerita mereka akan kubagikan kepadamu. Maukah kamu menyimaknya?


Di masa pandemi, konser anak-anak Bandung Philharmonic yang biasanya diadakan secara berkala, tak lagi dapat digelar secara luring. Sebagai gantinya Bandung Philharmonic mencoba membuat program konser virtual interaktif.

Anak-anak diundang menampilkan performance yang sesuai dengan kebolehan masing-masing, sementara itu Bandung Philharmonic menjahit performance mereka dalam bunga rampai cerita.

"Little Bird Stories" dinarasikan oleh burung kertas pembawa harapan (diperankan dengan seru oleh Kak Irene Sugihrehardja) yang terbang mendoakan burung-burung kecil. 


Untuk setiap penampil yang totalnya 31 orang, Dea mengarang cerita-cerita imajinatif yang ditulis khusus sesuai performance dan karakter penampil. Ini beberapa cerita di antaranya:

Davon Abisha Cahyana (11)

Mengapa bunyi hujan begitu meriah? Karena hujan adalah orkestra langit. Ada timpani raksasa yang menghasilkan bunyi gluduk, ada pula sekumpulan strings orchestra versi langit yang menghasilkan suara derai. Crsss … crssss … crsss…

Pada suatu hari, malaikat yang menjadi concert master orkestra itu cidera. Ia tidak dapat tampil di konser yang akan segera dipentaskan. 

Semua pemain orkestra langit panik. Apa yang harus mereka lakukan? Concert master adalah pemain biola utama. Jika ia tidak ada, orkestra akan sulit tampil sebagus-bagusnya.

“Aku tahu!” tiba-tiba pemain flute orkestra langit mendapat ide. “Kita minta saja Davon datang menggantikan. Dia rajawali yang jago bermain biola dan dapat terbang tinggi sekali. Pasti ia dapat terbang ke sini.”

Maka, kelompok wood wind alias alat musik tiup kayu meniupkan pesan untuk Davon sang rajawali cilik, mengundang Davon bermain biola di konser yang akan dilangsungkan. Tanpa banyak menawar, Davon segera terbang tinggi ke langit untuk memimpin pemain biola di okrestra langit.

Jika hujan turun, coba dengarkan baik-baik. Apakah kamu mendengar suara biola Davon? 

Angelique Kezia Chandra (11)

Kebanyakan burung—termasuk Blue Jay—bermigrasi pada malam hari. Sebelum terbang lebih jauh, Angelique memutuskan untuk mampir dulu ke rumah seorang pianis klasik yang memilih pensiun.

Sejak pasangannya—seorang penyanyi tenor—meninggal dunia, pianis klasik ini memutuskan untuk meninggalkan musik. Ia tak mau melihat pianonya lagi. Ia pun berhenti datang ke konser dan lebih banyak mengurung diri di rumah.

Angelique tahu musik justru membantu sang pianis merasa lebih baik. 

Pianis ini bisa saja menghindari lagu-lagu klasik dan konser, tetapi ia tak dapat menghindari seekor burung yang mengicaukan lagu klasik di jendela rumahnya. Maka bernyanyilah Angelique.

Ketika Angelique berkicau, sang pianis klasik tersentuh. Baru ia sadari, betapa rindunya ia pada musik yang pernah membuatnya begitu hidup.

Setelah menyampaikan pesan kecil untuk sang pianis, Angelique bergabung kembali dengan burung Blue Jay lainnya. Bersama-sama, mereka bermigrasi lagi mengikuti panduan bintang-bintang.

Alethea Harnoko (10)

Alethea adalah merak yang cantik sekali. Istimewanya, ia memintal sendiri bulu-bulunya. Dengan cermat, ia mengumpulkan semua yang dihadiahkan alam kepadanya. Bunga dan daun yang berguguran, bintang-bintang yang kadang kadang jatuh langsung menuju paruhnya, serta berkas cahaya matahari keemasan yang menjuntai seperti benang. Semua itu dipintal dengan terampil oleh Alethea.

Sambil memintal, Alethea selalu mengumandangkan “Spinning Song”, lagu yang memang bercerita tentang pemintal. Dengan lagu ini, ia pun memintal nada-nada menjadi doa dan harapan-harapan baik.

Lihat, lihat, betapa terampilnya Alethea…

 

Kalau yang teman-teman baca di awal tadi narasi pembuka, ini adalah narasi penutupnya:

Aku adalah burung kertas yang terbang membawa doa dan harapan.

Semoga burung-burung mungil yang kutemui selalu tangguh, pantang menyerah menghadapi segala tantangan. Semoga, sejauh apapun mereka terbang, seramai apa pun mereka berkicau, dan selincah apa pun mereka bergerak, kebaikan selalu menyala di hati mereka.

Aku adalah burung kertas yang terbang dibawa angin…


Komentar

Postingan populer dari blog ini

In{san}ner Child

  I nsa nner Child Redmiller Experience: The Great Ocean Stories   Saat kita bertumbuh dewasa, tanpa disadari, kadang ada bagian dari emosi masa kecil kita yang tertinggal. Ia tetap menjadi bocah yang meringkuk di palung rahasia, hidup dalam zaman yang seolah membeku, dan kerap tinggal sebagai luka batin yang tak tuntas terselesaikan. Si bocah adalah sub kepribadian yang—meskipun semi mandiri—tetap terikat dengan kesadaran dewasa kita. Jika terpicu, si bocah berenang meninggalkan palung, muncul ke permukaan, dan melepaskan reaksi emosinya yang tak selalu masuk akal. Kita yang telah dewasa dan bocah dalam diri kita menanggung luka yang sama, tetapi teraduk-aduk dalam bias.  

Meniti Laras

             “Lihat, dia nggak kayak orang sakit kan?” tanya Pak Eko Pratomo sambil menunjuk istrinya, Bu Dian Syarief, dengan gerakan kepala. Aku mengarahkan pandanganku pada Bu Dian yang tengah lincah bergerak mengurus yayasannya, Syamsyi Dhuha. Lupus dan low vision tak membunuh semangat dan percaya dirinya. Melalui Bu Dian aku belajar, di dalam diri setiap kita sebetulnya ada cahaya yang bisa kita pantik sendiri.

Redmiller Experience - Utopia

  Alkisah di masa yang lampau, tersebutlah pulau jauh tak tersentuh bernama Utopia. Jika kini ia sedekat genggaman gawaimu, akankah kamu memasukinya?   Media sosial membingkai dunia dalam kesempurnaan semu; tampilan fisik bak dewa- dewi, pasangan yang memiliki segalanya, pencapaian instan tanpa jatuh-bangun berarti, serta kemewahan yang tak ada habisnya. Hidup di- filter sampai kehilangan teksturnya. Batas antara mimpi dan kenyataan pudar. Tanpa sadar, manusia terjebak dalam dunia ideal yang tak pernah betul-betul ada. Dalam dunia Utopia.