Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Bandung Philharmonic

The Lonely Clown

Once upon a time, there was a town that filled with joy and laughter.  The citizens were clowns. They had red nose and well-known as skillful jugglers. When every baby clown was born, Circus Fairy gave them different gifts.  Dongeng simfonik adalah perpaduan dongeng dan komposisi orkestra. Formatnya, seorang narator membacakan cerita, sementara orkestra mengiringi dengan musik yang ilustratif. Dalam pementasannya, karya ini kerap dilengkapi pertunjukan teater dengan panggung menarik.    "The Lonely Clown" adalah dongeng simfonik yang diproduksi oleh B andung Philharmonic Orchestra dan berkolaborasi dengan Red Nose Foundation .  Liputan pertunjukan ini dapat dibaca di The Asian Par ents   Though the gifts were different, to every Baby Clown, Circus Fairy always whispers a same message, “Dear Little Clown, one day, you must use the gifts for good things…”   View this post on Instagram ...

Zoomsical Bianglala

  Di tahun 2020, serentak pijar dunia meredup.    Gelap menyelimuti ketika pandemi datang. Berbagai aktivitas lumpuh total. Mereka yang hidup dari panggung ke panggung kehilangan mata pencaharian. Anak-anak yang biasa beraktivitas di luar harus menghabiskan banyak waktu di rumah. Namun, mereka yang menolak dilumpuhkan mencari jalan untuk tetap bergerak. #Zoomsical tercipta sebagai format pertunjukan musikal yang masuk akal di masa pandemi. Anak-anak mengganti aktivitasnya dengan belajar banyak hal baru dari rumah. #Zoomsicalbianglala lahir sebagai pendar kecil bagi siapa pun yang ingin berdiang di sekitarnya.    “Cerita tidak terhindar saat mentari meredupkan pijar” Tapi, bukankah banyak inspirasi yang justru berangkat dari cerita? 

250 Tahun Mbah Beethoven

Di Bandung Philharmonic Children Performance edisi 250 tahun Beethoven, ada selingan cerita-cerita Beethoven. Supaya atraktif, si cerita hadir dalam bentuk sandiwara boneka sederhana. Dea bertugas bikin ceritanya. Karena nggak tau banyak tentang tokoh musik klasik, Dea ngelakuin riset kecil-kecilan. Riset itu ternyata bikin Dea terkesan banget sama karakter Mbah Beethoven. Dia pemarah, tapi loveable. Jenius musik yg tumbuh di bawah tekanan. Agak sarkastik, tapi buat Dea nggak terkesan berracun kayak nyinyiran medsos jaman sekarang. Sebagai orang Batak, Dea ngerasa marah-marah dan celetukan Beethoven mirip ompung-ompung. Meskipun belum tau bener apa enggak, konon kata-kata terakhirnya sebelum meninggal adalah: "Applaud, my friends, the comedy is over..." Beethoven berlomba dengan waktu. Dia terus berkarya sambil pelan-pelan keilangan pendengarannya. "Symphony no.9" yang lebih kita kenal dengan "Ode to Joy" adalah karya besar terakhir beliau, yang di...

Little Bird Stories

Aku adalah burung kertas yang terbang dibawa angin. Tapi ini bukan kisahku. Aku akan bercerita tentang burung-burung kecil yang kutemui di sepanjang perjalanan. Sayap-sayap mereka adalah talenta. Ketika dikepakkan dengan tangguh dan berani, mereka dapat terbang ke mana saja. Cerita mereka akan kubagikan kepadamu. Maukah kamu menyimaknya?

Daur - Be-A-Part

  Be A-part, sebuah proyek latihan virtual yang ditujukan untuk menyemangati teman-teman pelaku musik agar tetap berlatih dari rumah masing-masing di masa pandemi ini. Pada latihan perdana ini, kami menggunakan lagu orisinil karya Fauzie Wiriadisastra dan Sundea yang berjudul Daur.  Lirik: Pada suatu ketika nanti, kita akan mengingat hari ini  Sebagai hening yang paling bening, sebagai fajar menjemput pagi  Pada suatu ketika nanti, kita akan mengingat hari ini  Sebagai rantai kasih manusia, yang menguntai doa yang sama  Peradaban tak pernah jera mencari cara tuk pulihkan,  yang lekang dan yang usang, yang lekang dan yang usang, dan yang usang.  Pada suatu ketika nanti, kita akan mengingat hari ini Sebagai ranggas menyambut tunas.  Kelak setelah wabah terentas...  ==== Ada bonus buku elektronik Salamatahari #4 yang Dea buat untuk menemani karya ini. Bisa diunduh di sini .  

Beri Cinta Kepada Laut

"Beri Cinta Kepada Laut" adalah salah satu lagu yang ditulis bersama Si Ikan Paus untuk konser anak-anak Bandung Philharmonic "Under Our Sea".  Tentang konser "Under Our Sea"-nya Dea tulis di sini . Jangan pernah membeli tukik, si langka yang bersirip apik  Pisahkanlah sampah-sampahmu agar tak hanyut ke laut biru  Beri cinta kepada laut dengan cara yang kamu bisa  Beri cinta kepada laut dengan cara yang kamu bisa  Penyanyi: Eunike Sylvia  Musisi: Bandung Philharmonic Strings Quartet  M Januar Affandi D - violin 1  Fiola Rondonuwu -violin 2  Angga Aditia -viola  Widya Febiyanti - cello    Musik: Fauzie Wiriadisastra Lirik: Sundea 

Konser Terakhir dan Segala yang Pertama

    Newsletter Bandung Philharmonic, Januari 2019

Carnival of the Animals

 Sajak anak-anak untuk setiap bagian di komposisi "Carnival of the Animals". Dibacakan pada konser "Carnival of the Animals" Bandung Philharmonic Orchestra 20-21 Januari di IFI Jakarta dan Bandung