Langsung ke konten utama

Beri Cinta Kepada Laut

"Beri Cinta Kepada Laut" adalah salah satu lagu yang ditulis bersama Si Ikan Paus untuk konser anak-anak Bandung Philharmonic "Under Our Sea". 

Tentang konser "Under Our Sea"-nya Dea tulis di sini.


Jangan pernah membeli tukik, si langka yang bersirip apik 

Pisahkanlah sampah-sampahmu agar tak hanyut ke laut biru 

Beri cinta kepada laut dengan cara yang kamu bisa 

Beri cinta kepada laut dengan cara yang kamu bisa 


Penyanyi: Eunike Sylvia 

Musisi: Bandung Philharmonic Strings Quartet 

M Januar Affandi D - violin 1 

Fiola Rondonuwu -violin 2 

Angga Aditia -viola 

Widya Febiyanti - cello 

 

Musik: Fauzie Wiriadisastra Lirik: Sundea 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

In{san}ner Child

  I nsa nner Child Redmiller Experience: The Great Ocean Stories   Saat kita bertumbuh dewasa, tanpa disadari, kadang ada bagian dari emosi masa kecil kita yang tertinggal. Ia tetap menjadi bocah yang meringkuk di palung rahasia, hidup dalam zaman yang seolah membeku, dan kerap tinggal sebagai luka batin yang tak tuntas terselesaikan. Si bocah adalah sub kepribadian yang—meskipun semi mandiri—tetap terikat dengan kesadaran dewasa kita. Jika terpicu, si bocah berenang meninggalkan palung, muncul ke permukaan, dan melepaskan reaksi emosinya yang tak selalu masuk akal. Kita yang telah dewasa dan bocah dalam diri kita menanggung luka yang sama, tetapi teraduk-aduk dalam bias.  

Meniti Laras

             “Lihat, dia nggak kayak orang sakit kan?” tanya Pak Eko Pratomo sambil menunjuk istrinya, Bu Dian Syarief, dengan gerakan kepala. Aku mengarahkan pandanganku pada Bu Dian yang tengah lincah bergerak mengurus yayasannya, Syamsyi Dhuha. Lupus dan low vision tak membunuh semangat dan percaya dirinya. Melalui Bu Dian aku belajar, di dalam diri setiap kita sebetulnya ada cahaya yang bisa kita pantik sendiri.

Redmiller Experience - Utopia

  Alkisah di masa yang lampau, tersebutlah pulau jauh tak tersentuh bernama Utopia. Jika kini ia sedekat genggaman gawaimu, akankah kamu memasukinya?   Media sosial membingkai dunia dalam kesempurnaan semu; tampilan fisik bak dewa- dewi, pasangan yang memiliki segalanya, pencapaian instan tanpa jatuh-bangun berarti, serta kemewahan yang tak ada habisnya. Hidup di- filter sampai kehilangan teksturnya. Batas antara mimpi dan kenyataan pudar. Tanpa sadar, manusia terjebak dalam dunia ideal yang tak pernah betul-betul ada. Dalam dunia Utopia.