Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Pengantar Pameran

In{san}ner Child

  I nsa nner Child Redmiller Experience: The Great Ocean Stories   Saat kita bertumbuh dewasa, tanpa disadari, kadang ada bagian dari emosi masa kecil kita yang tertinggal. Ia tetap menjadi bocah yang meringkuk di palung rahasia, hidup dalam zaman yang seolah membeku, dan kerap tinggal sebagai luka batin yang tak tuntas terselesaikan. Si bocah adalah sub kepribadian yang—meskipun semi mandiri—tetap terikat dengan kesadaran dewasa kita. Jika terpicu, si bocah berenang meninggalkan palung, muncul ke permukaan, dan melepaskan reaksi emosinya yang tak selalu masuk akal. Kita yang telah dewasa dan bocah dalam diri kita menanggung luka yang sama, tetapi teraduk-aduk dalam bias.  

INSAN(G)

Redmiller Experience: The Great Ocean Stories “The heart of man is very much like the sea, it has its storms, it has its tides and in its depths it has its pearls too” – Vincent Van Gogh. Selamat datang di ekspedisi laut Redmiller Blood. Siapkan energi, pantik semangat, dan sambutlah The Great Ocean Stories. Temukan perahu ajaib lalu naiklah ke sana. Mari kita melaut dengan dayung imajinasi.  

Redmiller Experience - Utopia

  Alkisah di masa yang lampau, tersebutlah pulau jauh tak tersentuh bernama Utopia. Jika kini ia sedekat genggaman gawaimu, akankah kamu memasukinya?   Media sosial membingkai dunia dalam kesempurnaan semu; tampilan fisik bak dewa- dewi, pasangan yang memiliki segalanya, pencapaian instan tanpa jatuh-bangun berarti, serta kemewahan yang tak ada habisnya. Hidup di- filter sampai kehilangan teksturnya. Batas antara mimpi dan kenyataan pudar. Tanpa sadar, manusia terjebak dalam dunia ideal yang tak pernah betul-betul ada. Dalam dunia Utopia.  

The Redmiller Universe

  Tolooong, tolong. Redmiller Blood tergulung di arena warna. Ia terhuyung mengejar standar-standar semu. Kilau yang silau membutakan matanya. Kebisingan bunga-bunga membuat ia tak dapat mendengar suara hatinya. Masih mungkinkah Redmiller Blood diselamatkan? Adakah jalan agar ia tak kian jauh tersesat?  

Redmiller Experience - Not Your Ordinary Friend

sumber gambar: Instagram Disbudpar Kota Semarang     Hai, namaku Redmiller Blood. I’m not your ordinary friend, because I am you.

Behind Those Eyes

Alkisah, di tengah dunia yang warna-warni seperti mimpi, hiduplah sosok menggemaskan berambut merah, Red Miller Blood namanya. Ia selalu bimbang dan merasa kecil. Akibatnya, belantara warna dengan mudah menelannya. Padahal tahukah kamu Red Miller Blood lebih luas daripada pancarona yang melingkupinya? Red Miller Blood menanggung semesta. Ia palka gelap dengan segala bagasinya, rampai kisah yang teruntai menjadi gugus bintang, dan rangkaian sebab-akibat yang membentuk jati diri spesifiknya. Mata Red Miller Blood merupakan jendela menuju semestanya, sementara “Behind Those Eyes” adalah wahana jelajah  yang mengantar kita menelusuri perjalanan transformasi Red Miller Blood. Chaotic Garden Di perhentian pertama tur ini kita berhadapan dengan tekanan sosial atau peer pressure yang dihadapi Red Miller Blood. Kita menyaksikan Red Miller Blood mengorbankan kesehatan mentalnya hanya untuk diterima dan dicintai oleh belantara warna yang mungkin tak pernah sungguh-sungguh mencintainya. Ia sea...

Upon Those Pillows

Bantal adalah pemberi sandaran yang dapat diandalkan. Keempukan dan kenyamanannya kerap menjadi pengantar istirahat dan mimpi-mimpi kita. Namun, dalam “Behind Those Eyes”, bantal adalah tabula rasa yang lantas dimaknai oleh ekspresi seni teman-teman.  

Ngabotram: Life is What You Make

  Ketika pindah ke Bandung bertahun-tahun lalu, aku berkenalan dengan istilah botram alias potluck. Namun, secara rasa bahasa, pada kata botram aku mengecap kearifan lokal yang tak kutemukan dalam kata potluck .   Ada sifat guyub khas Jawa Barat, ada kesederhanaan dalam penyajiannya, ada keleluasaan menjadi diri sendiri, dan ada upaya untuk menjunjung kenyamanan bersama di atas kerumitan dan tututan. Sejauh pengalamanku, apa yang kita bawa saat ngabotram adalah sesuatu yang dekat dengan kita. Bisa masakan andalan, sesuatu yang paling mudah kita bawa, bahan-bahan yang tumbuh di kebun sendiri, jajanan favorit, atau santapan-santapan yang ingin kita perkenalkan kepada orang lain. Life is what you bring , sebab apa pun yang kita bawa saat ngabotram , berpotensi menjadi pintu menuju cerita hidup kita atau apa yang ingin kita presentasikan.   "Life is What You Make" adalah botram lukisan dan drawing dari lingkar pertemanan Gemma Guardi, Prabu Perdana, Sumastania (Dea),...

Perempuan-perempuan yang Mendengarkan Detak Jantungnya

Kuratorial untuk pameran "Tafsir Rupa dan Gerak Bukan Perawan Maria".  Katalog lengkapnya dapat diunduh di sini .              Perjalanan kumpulan cerita pendek “Bukan Perawan Maria” berangkat dari pertanyaan Feby Indirani kepada dirinya sendiri: “Apa sebetulnya tradisi saya?”             Darah Minang, Batak, dan Sunda mengalir di tubuhnya. Ia tumbuh di lingkungan urban dan hidup di tengah berbagai budaya yang saling mempengaruhi. Setelah menelusuri dan berkontempelasi, Feby sampai kepada simpulan ini: “Islam adalah tradisi saya”.              Tradisi berpangkal pada hal-hal substansial yang tak terpisah dari diri Feby. Mempertanyakan dan menggalinya menghasilkan sembilan belas cerita dalam kumpulan cerita pendek “Bukan Perawan Maria”.         ...

Tujuh Seniman

Ini tulisan personal, hasil ngobrol dengan ketujuh seniman yang terlibat di pameran "Tafsir Rupa dan Gerak Bukan Perawan Maria" Perempuan yang Kehilangan Wajahnya Tafsir cerpen “Perempuan yang Kehilangan Wajahnya” – Arum Tresnaningtyas             Ia seperti berdiri, di balik punggung si pelukis, mengamatinya yang sedang menyempurnakan lukisan wajahnya, dan sempat mengagumi kecantikannya sendiri pada lukisan itu.             “Apa yang bikin kamu pilih cerita ini?” tanya saya kepada Arum.             “Karena langsung kebayang visualnya aja ,” sahut Arum.             Setelah dibahas lebih panjang, fotografer yang kekinian ini ternyata tertarik pada fenomena swafoto pada perempuan-perempuan berhijab di media sosial. Meskipun tidak lagi mempe...

Mata Hati

Ini adalah pengantar untuk pameran foto dan buku foto Rizki Ramadhan "Tidak Sengaja Tapi Terrencana". Tentang pameran itu sendiri bisa dilihat di sini .   I'd be a lens that could see souls a shutter that never shuts … “Camera” – Cosby Stills Nash and Young Saya pernah mendengar seorang fotografer berkata begini, “Bukan kamera jenis apa yang paling penting. Kamera yang sebetulnya itu mata kita sendiri”. Saya sepakat. Mata yang memilih obyek, menentukan sudut pandang, dan menetapkan bingkai. Mata adalah lensa yang menangkap kesan, kemudian mengabadikannya sebagai memori.   Mata hati adalah lensa lain dengan sensor yang halus sekali. Ia menangkap yang tak kasat mata, kemudian mengabadikannya dalam apa saja; dalam doa yang kita ucapkan diam-diam, dalam pilihan langkah kita sehari-hari, dalam karya-karya kita, dan dalam hal-hal lain yang sering kita sebut sebagai kebaikan.   Rizki Ramadhan adalah seseorang yang menangkap apapun dengan ma...

PP

Ini adalah pengantar untuk pameran Jakarta-Bandung PP di Dia.Lo.Gue Artspace . Seneng banget bisa ikut merespon pameran yang temanya menyenangkan ini =D Pulang dan pergi sama-sama diawali huruf “P”. Pada singkatannya yang konvensional – PP – mereka dapat bertukar-tukar. Ucapan “selamat datang” dan “selamat tinggal” yang menumpu tolakan mereka pun demikian. Ada hubungan yang menarik antara PP alias tektok; kegiatan pulang-pergi yang biasanya dilakukan hanya dalam satu hari. Bandung dan Jakarta adalah kota yang memungkinkan ke-PP-an itu. Berbondong-bondong warga Bandung datang ke Jakarta untuk mengejar mimpinya. Sebaliknya, warga Jakarta balik memadati Bandung untuk tidur dan bermimpi.  Jarak tempuh merupakan kesadaran pendek yang melanggengkan dongeng tak tertulis di antara keduanya. Dan kita selalu menjadi pencerita atau yang diceritakan dalam potongan-potongan mimpi dan kesadaran tersebut.  The fundamental things apply,  as time goe...

Refracted Light

Tulisan ini dibuat sebagai pengantar art project "Refracted Light" - nya Herra Pahlasari  di pameran Flight for Light - Indonesian Art and Religiosity. Meskipun akhirnya pengantar ini nggak jadi dipake, art projectnya jadi, kok. Bisa diliat di Art:1 Gallery Jln. Rajawali Selatan Raya no.3, Jakarta dari tanggal 29 Oktober - 29 Januari 2011.  “Sinarmu memberi harapan yang bersahaja …” -Lukisan Pagi, Tohpati- Pada suatu pagi, sinar matahari jatuh ke sungai yang mengalir. Meski tampak tidak sengaja, berkas cahaya tahu apa yang dipilihnya. Biasnya menimpa perahu-perahu kertas yang sedang berenang menuju lautan. Di dalam setiap perahu, tercatat doa dan harapan anak-anak yang bersahaja namun utuh dalam meyakini.  Sungai bukan kereta api yang melintasi trayek yang dikonstruksi. Ia mengalir seperti tak tentu, namun sesungguhnya punya cara sendiri mengenali jalan menuju lautnya. Ke manapun ia bertualang, ada alur yang selalu menuntunn...