Langsung ke konten utama

INSAN(G)

Redmiller Experience: The Great Ocean Stories


“The heart of man is very much like the sea, it has its storms, it has its tides and in its depths it has its pearls too” – Vincent Van Gogh.

Selamat datang di ekspedisi laut Redmiller Blood. Siapkan energi, pantik semangat, dan sambutlah The Great Ocean Stories. Temukan perahu ajaib lalu naiklah ke sana. Mari kita melaut dengan dayung imajinasi.

 

Saat semakin jauh dari pantai, sapalah biru segara. Perlahan-lahan selami samudra dan simak lakon-lakon yang dipersembahkannya. Samudra yang akan kita arungi mempunyai realitasnya sendiri. Ia dihuni makhluk-makhluk fantasi, ledakan warna yang mendistraksi keheningan, kisah-kisah epik, dan tentu saja Redmiller Blood dengan air mata pelanginya.


Jika sampai di ruang lindap, jadikan kasih dan empati kita penerang. Petualangan di lautan Redmiller Blood tak selamanya indah dan ceria. Di sana pun bersemayam makhluk-makhluk mencekam laksana trauma dan masa lalu kita. Namun, suramkah petualangan ini? Sekelam apakah kesan yang dapat dihadirkan nuansa komikal jenaka ala Redmiller Blood?  Redmiller adalah makhluk mungil dengan air mata pelangi. Aral dan lara pun selalu menjelma menjadi sesuatu yang tak lepas dari cahaya.


Laut hadir sebagai relung hati Redmiller Blood yang menyimpan cita-cita, keberanian, syukur, luka, dan rahasia-rahasia. Pancaronanya lebur dalam semangat petualangan bersalut kenaifan anak-anak yang optimis.


Akhirnya sampailah kita di penghujung cerita. Redmiller Blood, yang  telah mengizinkan kita menyelami lubuknya, memberi kita kesempatan bercerita juga. Kira-kira apa yang ingin kita sampaikan kepada Redmiller Blood? Sesudah selesai, mari mempersiapkan dayung imajinasi kita untuk kembali ke daratan alias dunia nyata. Setelah berpijak di kenyataan, masih mungkinkah dayung imajinasi kita gunakan? Saat realitas menetapkan batas-batas, bukankah dayung imajinasilah yang memampukan kita melampauinya?

 
Di daratan, insang kita perlahan-lahan bertransformasi menjadi paru-paru. Namun, selama masih lembap ternyata insang kita masih berfungsi. Kugunakan sisa kesempatan untuk menghela mimpi dan mengintip ke dalam diri.


Ternyata aku pun lautan dengan realitasku sendiri. Berbagai lakon dan petualangan sambung menyambung menciptakan aku hari ini. Suka dan duka silih berganti mengupayakan keseimbangan. Pengalaman menciptakan makhluk ajaib aneka warna dan rupa. Kugenggam dayung imajinasi dengan hati raya. Aku tahu, sebagai lautan itu sendiri, aku dapat mengaktifkan insangku dan menggunakan dayung imajinasiku kapan saja.

 
Aku menghirup kesadaran baru dengan paru-paruku. Sesungguhnya kita semua—ya, termasuk kamu yang sedang membaca ini—adalah insan dengan hati seluas samudra.

 
Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah
Sundea
Bukan Kurator


Ini adalah kali kedua Dea berkolaborasi dengan Redmiller Blood. Seperti di proyek sebelumnya, selain nulis pengantar pameran, Dea juga bikin tulisan-tulisan wara. Berhubung agak lupa tulisan wara mana aja yang dipakai, Dea unggah yang ketemu di arsip, ya:

 

Pilihan quotes untuk SPONGEBOB:

·       Laugh your life to the fullest.
·      JOy KEeps you going Strong


Pilihan quotes untuk DAYUNG

·       Handle your paddle to cross the stream of dreams.
·       Sekali merengkuh dayung imajinasi, dua-tiga galau terlampaui


Pilihan Quotes untuk WISHING BOTTLE

·   Send me a DM: Deeptalk Moment
·  Let your stoRies comE out of your cheST.

 

Pilihan quotes untuk 3 REDMILLER:

·       Imbang adalah ombang-ambing yang lulus terbimbing.
·       Kamu bukan riak kecil, kamu adalah secuplik lautan luas.


Pilihan quotes untuk INSTALASI LAUT

·       Because you STay In Every way.
·       I know it's dark as night, but you have your spark of light.
·       Despite Everything, keep your Peace of THought.
·       Kadang, dalam citra diri yang diupayakan, terdapat cerita diri yang dilupakan.

 

Quote untuk yang ONE PIECE:

·       Nyalimu menyala, Abangku!

  

Quote untuk yang AQUAMAN:

  • your HiddEn stRength is within yOu
 




 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

In{san}ner Child

  I nsa nner Child Redmiller Experience: The Great Ocean Stories   Saat kita bertumbuh dewasa, tanpa disadari, kadang ada bagian dari emosi masa kecil kita yang tertinggal. Ia tetap menjadi bocah yang meringkuk di palung rahasia, hidup dalam zaman yang seolah membeku, dan kerap tinggal sebagai luka batin yang tak tuntas terselesaikan. Si bocah adalah sub kepribadian yang—meskipun semi mandiri—tetap terikat dengan kesadaran dewasa kita. Jika terpicu, si bocah berenang meninggalkan palung, muncul ke permukaan, dan melepaskan reaksi emosinya yang tak selalu masuk akal. Kita yang telah dewasa dan bocah dalam diri kita menanggung luka yang sama, tetapi teraduk-aduk dalam bias.  

Meniti Laras

             “Lihat, dia nggak kayak orang sakit kan?” tanya Pak Eko Pratomo sambil menunjuk istrinya, Bu Dian Syarief, dengan gerakan kepala. Aku mengarahkan pandanganku pada Bu Dian yang tengah lincah bergerak mengurus yayasannya, Syamsyi Dhuha. Lupus dan low vision tak membunuh semangat dan percaya dirinya. Melalui Bu Dian aku belajar, di dalam diri setiap kita sebetulnya ada cahaya yang bisa kita pantik sendiri.

Redmiller Experience - Utopia

  Alkisah di masa yang lampau, tersebutlah pulau jauh tak tersentuh bernama Utopia. Jika kini ia sedekat genggaman gawaimu, akankah kamu memasukinya?   Media sosial membingkai dunia dalam kesempurnaan semu; tampilan fisik bak dewa- dewi, pasangan yang memiliki segalanya, pencapaian instan tanpa jatuh-bangun berarti, serta kemewahan yang tak ada habisnya. Hidup di- filter sampai kehilangan teksturnya. Batas antara mimpi dan kenyataan pudar. Tanpa sadar, manusia terjebak dalam dunia ideal yang tak pernah betul-betul ada. Dalam dunia Utopia.