Langsung ke konten utama

Upon Those Pillows

Bantal adalah pemberi sandaran yang dapat diandalkan. Keempukan dan kenyamanannya kerap menjadi pengantar istirahat dan mimpi-mimpi kita. Namun, dalam “Behind Those Eyes”, bantal adalah tabula rasa yang lantas dimaknai oleh ekspresi seni teman-teman.

 

Pada tanggal 28 Mei dan 17 Juni 2023, Grey Art Gallery membuka kesempatan bagi siapapun yang ingin ikut berkarya dalam “Behind Those Eyes”. Berhubung Redmiller Blood merupakan representasi jiwa kita semua,  berbagi ruang dengan teman-teman dalam pillow art membuat “Behind Those Eyes” semakin kaya dengan nilai dan sudut pandang. Tim “Behind Those Eyes” menyediakan bantal polos berbentuk kepala Redmiller Blood sebagai kanvas yang boleh dilukisi apa saja.

 

Di sesi lokakarya, Pether Rian menceritakan latar belakang  dan apa yang menggerakannya membuat karya “Behind Those Eyes”. Selanjutnya, aku mengajak teman-teman masuk ke dunia imajinasi melalui rangkaian narasi. Setelah dibawa ke dunia Redmiller Blood, teman-teman dipersilakan menuangkan inspirasi yang mereka dapatkan pada bantal kanvas yang tersedia.

 

Lokakarya dua edisi menjodohkan “Behind Those Eyes” dengan 26 karya yang sangat beragam. Delia Vanadia, Diva Nurul F, Eko, Toni Antinious, dan Rachel Ulina memberikan wajah yang sama sekali berbeda pada bantal kepala Redmiller Blood. Sementara Evi Satijadi, Jesslyn Valeska, Ari Azhari, dan Marcella Astrid membuat ulang wajah Redmiller Blood bermata khas dalam sentuhan personal mereka.

 

Kepala Redmiller Blood digarap jungkir balik oleh Dede Yogi Darsita, Grace Christianti, dan Nayera Subaih. Adeline Ignatia, Frag, Makayia Mabel, dan Sayyid, menempatkan mata di posisi cepol Redmiller Blood. Sementara Aprsyifa, Rosyanioci, Ryanti, dan Wildan memperlakukan bantal kepala Redmiller Blood sebagai kanvas yang tak harus mutlak membentuk wajah atau figur tertentu. Ada pula Aviana Sean Limanjaya dan Kayleen Evangelyn Setiawan yang turut menyumbangkan karya dengan kacamata kanak-kanaknya.

 

Tema yang diusung pun bervariasi. Ada beberapa karya yang berderak di jalur tema “Behind Those Eyes”, misalnya “Ur Choice” karya Adeline Ignatia, “PESONA MAPS, 2023” karya Rosyanioci, atau “Something Comforting” karya Jesslyn Valeska. Namun, ada juga karya-karya dengan tema yang sama sekali berbeda dengan “Behind Those Eyes”. Sebut saja “Gajah Bersin” karya Daud Nugraha dan “Anjeng Samoyed” karya Kage Nao.  

 

Saat merespons bantal polos berbentuk kepala Redmiller Blood, setiap peserta boleh bereksplorasi sebebas mungkin dan menjadi apa saja.  Ingin menjadi donat seperti C.N Dwaji dalam karyanya boleh saja. Menggambarkan potret diri sebagai makhluk penuh amoeba seperti Kirinekdot pun tidak dilarang. Semakin beragam tema, sudut pandang, format, warna, serta pengalaman teman-teman yang memeriahkan “Behind Those Eyes”, semakin terkukuhkan pula pesan yang dibawa Redmiller untuk kita semua. Dua puluh enam karya teman-teman yang menjadi bagian “Behind Those Eyes” adalah representasi dari warna-warna otentik kita yang bhineka.

 

Bantal memberi kepala kita sandaran nyaman. Bantal tak menghakimi mimpi-mimpi dan pikiran-pikiran apapun yang kita rebahkan padanya. Bantal adalah media pillow art di lokakarya “Behind Those Eyes”.

 

Jika dunia yang hiruk-pikuk menuntutmu menjadi seragam,

istirahatkan dan jernihkan isi kepalamu.

 

Di kejernihan itulah kamu dapat melihat ke dasar jiwa,

tempat pusat keberadaan dirimu bersemayam.

 

Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah,

Sundea @salamatahari

Bukan Kurator


 

Setelah sesi meditasi visual dan berkarya dengan pillow art, karya temen-temen yang dibuat di bantal Redmiller Blood akhirnya dipamerin. Judul pamerannya "Upon Those Pillows" biar senada seirama sama "Behind Those Eyes".

Video acara pembukaan pamerannya bisa ditonton di sini, ya, Teman-teman...



Komentar

Postingan populer dari blog ini

In{san}ner Child

  I nsa nner Child Redmiller Experience: The Great Ocean Stories   Saat kita bertumbuh dewasa, tanpa disadari, kadang ada bagian dari emosi masa kecil kita yang tertinggal. Ia tetap menjadi bocah yang meringkuk di palung rahasia, hidup dalam zaman yang seolah membeku, dan kerap tinggal sebagai luka batin yang tak tuntas terselesaikan. Si bocah adalah sub kepribadian yang—meskipun semi mandiri—tetap terikat dengan kesadaran dewasa kita. Jika terpicu, si bocah berenang meninggalkan palung, muncul ke permukaan, dan melepaskan reaksi emosinya yang tak selalu masuk akal. Kita yang telah dewasa dan bocah dalam diri kita menanggung luka yang sama, tetapi teraduk-aduk dalam bias.  

Meniti Laras

             “Lihat, dia nggak kayak orang sakit kan?” tanya Pak Eko Pratomo sambil menunjuk istrinya, Bu Dian Syarief, dengan gerakan kepala. Aku mengarahkan pandanganku pada Bu Dian yang tengah lincah bergerak mengurus yayasannya, Syamsyi Dhuha. Lupus dan low vision tak membunuh semangat dan percaya dirinya. Melalui Bu Dian aku belajar, di dalam diri setiap kita sebetulnya ada cahaya yang bisa kita pantik sendiri.

Redmiller Experience - Utopia

  Alkisah di masa yang lampau, tersebutlah pulau jauh tak tersentuh bernama Utopia. Jika kini ia sedekat genggaman gawaimu, akankah kamu memasukinya?   Media sosial membingkai dunia dalam kesempurnaan semu; tampilan fisik bak dewa- dewi, pasangan yang memiliki segalanya, pencapaian instan tanpa jatuh-bangun berarti, serta kemewahan yang tak ada habisnya. Hidup di- filter sampai kehilangan teksturnya. Batas antara mimpi dan kenyataan pudar. Tanpa sadar, manusia terjebak dalam dunia ideal yang tak pernah betul-betul ada. Dalam dunia Utopia.