Langsung ke konten utama

Daur - Be-A-Part

 
Be A-part, sebuah proyek latihan virtual yang ditujukan untuk menyemangati teman-teman pelaku musik agar tetap berlatih dari rumah masing-masing di masa pandemi ini.

Pada latihan perdana ini, kami menggunakan lagu orisinil karya Fauzie Wiriadisastra dan Sundea yang berjudul Daur. 





Lirik:

Pada suatu ketika nanti, kita akan mengingat hari ini 

Sebagai hening yang paling bening, sebagai fajar menjemput pagi 

Pada suatu ketika nanti, kita akan mengingat hari ini 

Sebagai rantai kasih manusia, yang menguntai doa yang sama 

Peradaban tak pernah jera mencari cara tuk pulihkan, 

yang lekang dan yang usang, yang lekang dan yang usang, dan yang usang. 

Pada suatu ketika nanti, kita akan mengingat hari ini Sebagai ranggas menyambut tunas. 

Kelak setelah wabah terentas... 

====

Ada bonus buku elektronik Salamatahari #4 yang Dea buat untuk menemani karya ini. Bisa diunduh di sini. 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

In{san}ner Child

  I nsa nner Child Redmiller Experience: The Great Ocean Stories   Saat kita bertumbuh dewasa, tanpa disadari, kadang ada bagian dari emosi masa kecil kita yang tertinggal. Ia tetap menjadi bocah yang meringkuk di palung rahasia, hidup dalam zaman yang seolah membeku, dan kerap tinggal sebagai luka batin yang tak tuntas terselesaikan. Si bocah adalah sub kepribadian yang—meskipun semi mandiri—tetap terikat dengan kesadaran dewasa kita. Jika terpicu, si bocah berenang meninggalkan palung, muncul ke permukaan, dan melepaskan reaksi emosinya yang tak selalu masuk akal. Kita yang telah dewasa dan bocah dalam diri kita menanggung luka yang sama, tetapi teraduk-aduk dalam bias.  

Meniti Laras

             “Lihat, dia nggak kayak orang sakit kan?” tanya Pak Eko Pratomo sambil menunjuk istrinya, Bu Dian Syarief, dengan gerakan kepala. Aku mengarahkan pandanganku pada Bu Dian yang tengah lincah bergerak mengurus yayasannya, Syamsyi Dhuha. Lupus dan low vision tak membunuh semangat dan percaya dirinya. Melalui Bu Dian aku belajar, di dalam diri setiap kita sebetulnya ada cahaya yang bisa kita pantik sendiri.

Redmiller Experience - Utopia

  Alkisah di masa yang lampau, tersebutlah pulau jauh tak tersentuh bernama Utopia. Jika kini ia sedekat genggaman gawaimu, akankah kamu memasukinya?   Media sosial membingkai dunia dalam kesempurnaan semu; tampilan fisik bak dewa- dewi, pasangan yang memiliki segalanya, pencapaian instan tanpa jatuh-bangun berarti, serta kemewahan yang tak ada habisnya. Hidup di- filter sampai kehilangan teksturnya. Batas antara mimpi dan kenyataan pudar. Tanpa sadar, manusia terjebak dalam dunia ideal yang tak pernah betul-betul ada. Dalam dunia Utopia.