Langsung ke konten utama

Syamsi Dhuha, Mentari Pagi

 


Syamsi Dhuha Mentari Pagi

Fajar tak pernah merasa malam terlalu pekat untuk dikalahkan. Berkasnya selalu mencari sela, terbit melalui pori-pori kegelapan.

Ia adalah cikal bakal hari yang baru, berkas kecil yang tak mudah patah, tak mudah menyerah. Kelak, ia akan tumbuh lebih besar daripada kegelapan itu sendiri. Menerangi langkah, menghangatkan kisah. 

Di dalam Bahasa Arab, syamsi dhuha mengandung arti fajar, mentari pagi. Pada nama itu terkandung harapan dan keyakinan; semangat dan doa.

Semoga nama tersebut dapat mendorong banyak peristiwa berpendar dari sela-sela kegelapan. Karena sepekat apapun, tak pernah ada kegelapan yang sama sekali tidak bercelah …

Pengantar Mengenai Metafora Mentari dan Kupu-kupu

Mentari dan kupu-kupu adalah dua hal yang tak dapat dilepaskan dari SDF. Mentari pagi yang melambangkan harapan merupakan nama dari yayasan ini, sementara kupu-kupu adalah bentuk ruam yang kerap muncul di wajah penyandang lupus.

Di samping itu, ada benang merah yang menghubungkan mentari pagi dan kupu-kupu. Keduanya merupakan bagian dari sebuah proses perjalanan selangkah demi selangkah yang konsisten. Mentari pagi adalah titik awal perjalanan matahari untuk menggenapkan sebuah hari, sementara kupu-kupu adalah proses akhir dari perjalanan sang kepompong bermetamorfosa.

Mentari dan kupu-kupu adalah dua metafora yang akan banyak hadir dalam keseluruhan buku ini. Mereka mewakili harapan, konsistensi, keyakinan, dan keteguhan berperjalanan. Judul “Mentarimorfosa” dipilih untuk mengawinkan keduanya. 

Selamat mengikuti perjalanan bermentarimorfosa bersama SDF …

Komentar

Postingan populer dari blog ini

In{san}ner Child

  I nsa nner Child Redmiller Experience: The Great Ocean Stories   Saat kita bertumbuh dewasa, tanpa disadari, kadang ada bagian dari emosi masa kecil kita yang tertinggal. Ia tetap menjadi bocah yang meringkuk di palung rahasia, hidup dalam zaman yang seolah membeku, dan kerap tinggal sebagai luka batin yang tak tuntas terselesaikan. Si bocah adalah sub kepribadian yang—meskipun semi mandiri—tetap terikat dengan kesadaran dewasa kita. Jika terpicu, si bocah berenang meninggalkan palung, muncul ke permukaan, dan melepaskan reaksi emosinya yang tak selalu masuk akal. Kita yang telah dewasa dan bocah dalam diri kita menanggung luka yang sama, tetapi teraduk-aduk dalam bias.  

Meniti Laras

             “Lihat, dia nggak kayak orang sakit kan?” tanya Pak Eko Pratomo sambil menunjuk istrinya, Bu Dian Syarief, dengan gerakan kepala. Aku mengarahkan pandanganku pada Bu Dian yang tengah lincah bergerak mengurus yayasannya, Syamsyi Dhuha. Lupus dan low vision tak membunuh semangat dan percaya dirinya. Melalui Bu Dian aku belajar, di dalam diri setiap kita sebetulnya ada cahaya yang bisa kita pantik sendiri.

Redmiller Experience - Utopia

  Alkisah di masa yang lampau, tersebutlah pulau jauh tak tersentuh bernama Utopia. Jika kini ia sedekat genggaman gawaimu, akankah kamu memasukinya?   Media sosial membingkai dunia dalam kesempurnaan semu; tampilan fisik bak dewa- dewi, pasangan yang memiliki segalanya, pencapaian instan tanpa jatuh-bangun berarti, serta kemewahan yang tak ada habisnya. Hidup di- filter sampai kehilangan teksturnya. Batas antara mimpi dan kenyataan pudar. Tanpa sadar, manusia terjebak dalam dunia ideal yang tak pernah betul-betul ada. Dalam dunia Utopia.