Langsung ke konten utama

The Miracle - Musical Drama for Charity

Proyek ini adalah proyek yang bikin Dea deket sama Ikanpaus. Taun 2012 Ikanpaus random nyapa di fb, sering ngirim-ngirim poster konser, lama-lama kami jadi ngobrol, terus akhirnya dia minta tolong Dea bikin lirik buat sandiwara musikal yang musiknya garapan dia.

Awalnya kami sempet adu argumen. Soalnya, nulis buat Ikanpaus beda banget sama nulis bebas--bahkan ketika kolaborasi sama seniman-seniman lain--yang biasa Dea lakuin. 

Bikin lirik untuk sandiwara musikal pertimbangannya lebih banyak, yang harus disesuaikan lebih banyak, aturannya lebih banyak, tapi berangkat dari situ, Dea jadi belajar banyak juga. Sekarang nulis lirik--terutama untuk komposisi paduan suara dan musikal--malah jadi salah satu proyek yang paling banyak Dea kerjain.

Berikut salah satu contoh lirik Dea, judulnya "Kematian Hari". Hari di sini  merujuk ke "hari" di KBBI dan nama tokohnya.

 

Kematian Hari 

 

Engkau adalah warna-warna yang hadir sebagai beragam kisah dan cerita

Bersamamu ada tangis dan ada tawa

Bersamamu susuri terik dan teduh

 

Engkau membuatku tak merasa sendiri

Bersamamu aku tak gentar lintasi belantara

Engkau adalah segala pertanyaan

Tapi pada akhirnya, kaupun segala jawaban.

 

Hari-hari bersedia pada rotasi, pada waktunya mereka akan mati

Merunduklah mentari di gulita, cahaya semesta serempak berduka

 

Engkau genapkan pengabdian dengan menyudahi seluruh hidupmu yang rentan

Tak sedikit pun napasmu engkau simpan

Kau buktikan kesetiaan semurni intan

 

Hari-hari bersetia pada rotiasi pada waktunya mereka akan mati

Merunduklah mentari di gulita, cahaya semesta serempak berduka

 

Tetapi setiap gulita adalah cikal sang fajar

Hari-hari bersamamu takkan kulupakan



Pdf partitur dan midi kolaborasi Ikanpaus dan Dea untuk proyek ini bisa diunduh di sini:

#7 Tuhan Hanyalah Legenda
Words by Sundea, Music by Fauzie Wiriadisastra
Score MIDI

#8 Kematian Hari
Words by Sundea, Music by Fauzie Wiriadisastra
Score MIDI

#9 Kini Kita Bersatu Kembali
Words by Sundea, Music by Fauzie Wiriadisastra
Score MIDI


Komentar

Postingan populer dari blog ini

In{san}ner Child

  I nsa nner Child Redmiller Experience: The Great Ocean Stories   Saat kita bertumbuh dewasa, tanpa disadari, kadang ada bagian dari emosi masa kecil kita yang tertinggal. Ia tetap menjadi bocah yang meringkuk di palung rahasia, hidup dalam zaman yang seolah membeku, dan kerap tinggal sebagai luka batin yang tak tuntas terselesaikan. Si bocah adalah sub kepribadian yang—meskipun semi mandiri—tetap terikat dengan kesadaran dewasa kita. Jika terpicu, si bocah berenang meninggalkan palung, muncul ke permukaan, dan melepaskan reaksi emosinya yang tak selalu masuk akal. Kita yang telah dewasa dan bocah dalam diri kita menanggung luka yang sama, tetapi teraduk-aduk dalam bias.  

Meniti Laras

             “Lihat, dia nggak kayak orang sakit kan?” tanya Pak Eko Pratomo sambil menunjuk istrinya, Bu Dian Syarief, dengan gerakan kepala. Aku mengarahkan pandanganku pada Bu Dian yang tengah lincah bergerak mengurus yayasannya, Syamsyi Dhuha. Lupus dan low vision tak membunuh semangat dan percaya dirinya. Melalui Bu Dian aku belajar, di dalam diri setiap kita sebetulnya ada cahaya yang bisa kita pantik sendiri.

Redmiller Experience - Utopia

  Alkisah di masa yang lampau, tersebutlah pulau jauh tak tersentuh bernama Utopia. Jika kini ia sedekat genggaman gawaimu, akankah kamu memasukinya?   Media sosial membingkai dunia dalam kesempurnaan semu; tampilan fisik bak dewa- dewi, pasangan yang memiliki segalanya, pencapaian instan tanpa jatuh-bangun berarti, serta kemewahan yang tak ada habisnya. Hidup di- filter sampai kehilangan teksturnya. Batas antara mimpi dan kenyataan pudar. Tanpa sadar, manusia terjebak dalam dunia ideal yang tak pernah betul-betul ada. Dalam dunia Utopia.