Langsung ke konten utama

Selamat Datang di Negeri Bahagia - lagu pernikahan

Setelah berkolaborasi bikin musik dan lirik untuk drama musikal "The Miracle", Ikanpaus dan Dea ngebuat sendiri lagu-lagu pernikahan kami. Sebenernya partitur dan midinya udah diunggah ke Mediafire, cuma kayaknya tautannya bermasalah. 

Nah, tapi, kalau ada yang perlu, jangan ragu kontak dan minta ke Ikanpaus di fauziew@gmail.com. Ada rangkaian lagu untuk misa lengkap yang kami bikin sendiri semua, boleh dipake gratis sama temen-temen.

 


Ini lirik lagu prosesi masuk dan rekamannya. Cerita di balik lagu ini Dea tulis di sini


Selamat Datang di Negeri Bahagia
 
Iman menuntunmu kepada hari ini
Waktu mengasuh kisah, doa menjaga langkah
Selamat datang di Negeri Bahagia
Di mana rusa tak mengenal dahaga
Setiap ucapan semerdu gita
dan kasih tumbuh menyentuh surga
Saat kau tapaki yang kau pijak menjelma pelangi
Kemarau berlalu sudah
musim semi sambutlah
Selamat datang di Negeri Bahagia
di mana singa-singa menjaga domba
Setiap senyuman menerpa lara
Dan yang tumbuh berbuah renjana
Bandung, 18 Mei 2014
 
 
music by Fauzie Wiriadisastra
words by Sundea
orkestra: Laurentius Symphony Orchestra
Koor: Svaditra


Komentar

Postingan populer dari blog ini

In{san}ner Child

  I nsa nner Child Redmiller Experience: The Great Ocean Stories   Saat kita bertumbuh dewasa, tanpa disadari, kadang ada bagian dari emosi masa kecil kita yang tertinggal. Ia tetap menjadi bocah yang meringkuk di palung rahasia, hidup dalam zaman yang seolah membeku, dan kerap tinggal sebagai luka batin yang tak tuntas terselesaikan. Si bocah adalah sub kepribadian yang—meskipun semi mandiri—tetap terikat dengan kesadaran dewasa kita. Jika terpicu, si bocah berenang meninggalkan palung, muncul ke permukaan, dan melepaskan reaksi emosinya yang tak selalu masuk akal. Kita yang telah dewasa dan bocah dalam diri kita menanggung luka yang sama, tetapi teraduk-aduk dalam bias.  

Meniti Laras

             “Lihat, dia nggak kayak orang sakit kan?” tanya Pak Eko Pratomo sambil menunjuk istrinya, Bu Dian Syarief, dengan gerakan kepala. Aku mengarahkan pandanganku pada Bu Dian yang tengah lincah bergerak mengurus yayasannya, Syamsyi Dhuha. Lupus dan low vision tak membunuh semangat dan percaya dirinya. Melalui Bu Dian aku belajar, di dalam diri setiap kita sebetulnya ada cahaya yang bisa kita pantik sendiri.

Redmiller Experience - Utopia

  Alkisah di masa yang lampau, tersebutlah pulau jauh tak tersentuh bernama Utopia. Jika kini ia sedekat genggaman gawaimu, akankah kamu memasukinya?   Media sosial membingkai dunia dalam kesempurnaan semu; tampilan fisik bak dewa- dewi, pasangan yang memiliki segalanya, pencapaian instan tanpa jatuh-bangun berarti, serta kemewahan yang tak ada habisnya. Hidup di- filter sampai kehilangan teksturnya. Batas antara mimpi dan kenyataan pudar. Tanpa sadar, manusia terjebak dalam dunia ideal yang tak pernah betul-betul ada. Dalam dunia Utopia.