Langsung ke konten utama

Dongeng di Kertas Pembungkus Tahu

 

Dongeng di Koran Pembungkus Tahu


Judul : Dongeng Rangkas (film dokumenter)
Film Produksi Bersama: Forum LentengAkumassa, dan Saidjah Forum
Kolaborasi penyutradaraan: Andang Kelana, Badrul “Rob” Munir, Fuad Fauji, Hafiz, Syaiful Anwar
Follow twitter: @DongengRangkas

posterdongengrangkas

Di atas meja makan saya, bertumpuk benda entah apa yang dibungkus kertas koran.

“Wow, apaan, nih?” tanya saya pada Mbak yang bekerja di rumah.
“Mungkin tahu. Tadi ada yang ke sini bawa keranjang tahu, saya nggak kenal,” sahut Si Mbak.
“Orangnya nggak bilang apa-apa?” tanya saya lagi.
Mbak mencoba mengingat-ingat.
“Katanya … ini Dongeng Rangkas. Tapi saya juga nggak ngertilah,” sahut Mbak akhirnya.
Saya mengangguk-angguk.



Ketika Mbak pergi menyiram tanaman, saya menimang salah satu bungkusan tersebut. “Iya, nih, isinya tahu,” gumam saya. Membungkus tahu per tahu dengan koran sungguh kurang kerjaan adanya. Tapi … ya sudahlah, lumayan juga kan ada cemilan sore-sore. 

Saya membuka salah satu bungkus tahu. Sambil mengunyah, saya mengamat-amati kertas koran berminyak yang saya biarkan terbentang di atas meja. Hei! Kok lucu, sih? Ada gambar ayam mematuki Royco rasa ayam. Ironis dan jenaka. Penasaran, saya memutuskan untuk membuka seluruh bungkus tahu satu persatu.

Ternyata pada setiap lembar pembungkus tahu terdapat potongan cerita. Tidak ada yang lengkap, namun semuanya merupakan sketsa yang menarik. Siapapun yang membungkusi tahu-tahu tersebut pasti tak sembarangan mencomot kertas koran. Saya merasakan kecermatan dan sebentuk tendensi yang tak ingin menggurui di sana. 

“Sini, De, korannya saya buang sekalian,” tawar Si Mbak setelah selesai menyiram tanaman.
“Eh, jangan, Mbak, mau Dea kliping,” sahut saya.
“Hah? Kok bikin kliping dari koran bekas bungkus tahu?”
Saya nyengir sambil mengangkut koran-koran tersebut ke meja belajar.

Setelah menyusun koran-koran pembungkus tahu tersebut, kira-kira seperti inilah cerita yang bisa saya paparkan:

Alkisah di daerah Banten, terdapat sebuah daerah bernama Rangkas. Masyarakatnya hidup di bawah garis kemiskinan, tetapi punya cara sendiri berbahagia dengan kehidupan. Sebagian besar penduduknya berjualan tahu. Dijual murah sekali. Dua ribu rupiah per lima belas buah. Wow.

Iron, salah satu pedagang tahu, adalah musisi underground metal satu jari. Apa itu metal satu jari? Metal satu jari adalah aliran musik keras yang religius. Iron sendiri adalah pribadi yang unik. Ia rajin shalat namun kerap berbicara seenak bedulnya. Ia selalu bermusik untuk kepuasan batin. Iron menikah dengan pedagang toge di pasar dan menjalani sistem rumah tangga di luar konstruksi yang berlaku umum.

Beda lagi dengan Kiwong. Hidupnya naik dan turun di titik ekstrim. Ia sempat masuk pesantren, menjadi preman di kota, kemudian akhirnya dijodohkan dan hidup stabil sebagai penjual tahu. Ia jenaka dan apa adanya. Ketika ditanya untuk apa menaburkan Royco di atas tahu-tahunya, dengan santai ia menjawab, “Euweuh artian ieu teh (nggak ada artinya ini), supaya indah aja …”

Lembar yang saya anggap menutup seluruh sketsa adalah gambar kereta yang sedang bergerak. Jendelanya menghadirkan pemandangan yang berganti-ganti secara cepat.

Ending yang metaforik,” saya bergumam sendiri. Tanpa harus didramatisasi seperti reality show televisi, sesungguhnya hidup sudah dramatis dengan sendirinya. Tanpa harus menjual air mata, kesedihan justru hadir dengan cara yang lebih liris dan elegan. Pemandangan yang berganti-ganti di jendela kereta terlihat seperti animasi. Padahal, itulah kenyataan yang sebenar-benarnya.

Ada beberapa sketsa di kertas koran yang mungkin tak terlalu jelas terbaca karena berminyak dan sedikit sobek. Tapi tak apa. Namanya juga dongeng. Saya boleh saja menceritakannya kembali dengan bahasa saya sendiri, bukan?

Saya men-stapler lembar-lembar yang sudah saya susun. Besok-besok saya akan membacakannya untuk keponakan saya sebelum ia tidur.

Pernah membaca kumpulan dongeng Hans Christian Andersen atau Grim Brothers? Saya punya kumpulan dongeng baru. Judulnya Dongeng Rangkas.

Sundea

untuk http:/dongengrangkas.akumassa.org

Komentar

Postingan populer dari blog ini

In{san}ner Child

  I nsa nner Child Redmiller Experience: The Great Ocean Stories   Saat kita bertumbuh dewasa, tanpa disadari, kadang ada bagian dari emosi masa kecil kita yang tertinggal. Ia tetap menjadi bocah yang meringkuk di palung rahasia, hidup dalam zaman yang seolah membeku, dan kerap tinggal sebagai luka batin yang tak tuntas terselesaikan. Si bocah adalah sub kepribadian yang—meskipun semi mandiri—tetap terikat dengan kesadaran dewasa kita. Jika terpicu, si bocah berenang meninggalkan palung, muncul ke permukaan, dan melepaskan reaksi emosinya yang tak selalu masuk akal. Kita yang telah dewasa dan bocah dalam diri kita menanggung luka yang sama, tetapi teraduk-aduk dalam bias.  

Meniti Laras

             “Lihat, dia nggak kayak orang sakit kan?” tanya Pak Eko Pratomo sambil menunjuk istrinya, Bu Dian Syarief, dengan gerakan kepala. Aku mengarahkan pandanganku pada Bu Dian yang tengah lincah bergerak mengurus yayasannya, Syamsyi Dhuha. Lupus dan low vision tak membunuh semangat dan percaya dirinya. Melalui Bu Dian aku belajar, di dalam diri setiap kita sebetulnya ada cahaya yang bisa kita pantik sendiri.

Redmiller Experience - Utopia

  Alkisah di masa yang lampau, tersebutlah pulau jauh tak tersentuh bernama Utopia. Jika kini ia sedekat genggaman gawaimu, akankah kamu memasukinya?   Media sosial membingkai dunia dalam kesempurnaan semu; tampilan fisik bak dewa- dewi, pasangan yang memiliki segalanya, pencapaian instan tanpa jatuh-bangun berarti, serta kemewahan yang tak ada habisnya. Hidup di- filter sampai kehilangan teksturnya. Batas antara mimpi dan kenyataan pudar. Tanpa sadar, manusia terjebak dalam dunia ideal yang tak pernah betul-betul ada. Dalam dunia Utopia.