Langsung ke konten utama

Merenungkan Waria

Dimuat sebagai bonus zine Minor bacaankecil edisi "Rekayasa", sekitar tahun 2004


========

Saya sepenuhnya yakin Dia tidak sedang bermain dadu.
-Albert Einstein-


Malam sudah sangat larut ketika Tuhan selesai menciptakan beberapa manusia.

“Tinggal dikemas, nih,” kata Tuhan puas. 

“Besok pagi saja, Tuhan, mata Anda sudah merah,” saran seorang malaikat.

“Sekarang saja, ah, Saya tak suka menunda pekerjaan,” kata Tuhan sambil menguap. Maka, meskipun dengan mata merah dan berkantung, Tuhan menuntaskan pekerjaan-Nya.

Karena sudah lelah Tuhan salah packing. Ada laki-laki yang dikemas dalam tubuh perempuan dan perempuan yang dikemas dalam tubuh laki-laki.

Setelah menulis cerita itu saya merenung. Masa, sih, kejadiannya begitu amat? Sekenal Dea Tuhan sangat hati-hati. Apa mungkin Dia membuat malpraktik demikian parah? Kalau bukan malpraktik, apa yang terjadi di surga saat Tuhan menciptakan waria?

Akibat perenungan tersebut, lahirlah cerita lainnya:

Tuhan adalah seniman post-modernis. Pada suatu hari, Dia menciptakan perempuan dengan kemasan laki-laki dan laki-laki dengan kemasan perempuan.

“Apa tidak terlalu kontroversial, Tuhan?” tanya seorang malaikat. 

“Namanya juga karya seni,” tanggap Tuhan. Dengan kasih dan pemikiran yang tidak sembarangan, Dia mengirim karya-Nya ke dunia.

Setelah menulis cerita itu Dea merenung lagi. Kalau waria memang karya seni, kenapa Dia  membenturkan mereka dengan dosa, hukum-Nya sendiri?

Pertanyaan itu menjadi “bekal” kelanjutan cerita Dea:

“Tuh, kan, Tuhan, apa kata saya? Waria-waria itu menjadi masalah. Berhubung isi dan kemasan tidak sesuai konvensi, mereka berdosa,” kata malaikat.

Dengan kasih Tuhan menatap para waria, “Memangnya siapa yang menentukan konvensi dan dosa?” tanya Tuhan dengan suara-Nya yang berat, dalam, dan arif.

“Lho, bukannya Anda?” Malaikat balik bertanya.

Tuhan mengangkat wajah-Nya yang bersinar. Ditatap-Nya malaikat dengan senyum penuh rahasia.

….

(bersambung di renungan teman-teman masing-masing)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

In{san}ner Child

  I nsa nner Child Redmiller Experience: The Great Ocean Stories   Saat kita bertumbuh dewasa, tanpa disadari, kadang ada bagian dari emosi masa kecil kita yang tertinggal. Ia tetap menjadi bocah yang meringkuk di palung rahasia, hidup dalam zaman yang seolah membeku, dan kerap tinggal sebagai luka batin yang tak tuntas terselesaikan. Si bocah adalah sub kepribadian yang—meskipun semi mandiri—tetap terikat dengan kesadaran dewasa kita. Jika terpicu, si bocah berenang meninggalkan palung, muncul ke permukaan, dan melepaskan reaksi emosinya yang tak selalu masuk akal. Kita yang telah dewasa dan bocah dalam diri kita menanggung luka yang sama, tetapi teraduk-aduk dalam bias.  

Meniti Laras

             “Lihat, dia nggak kayak orang sakit kan?” tanya Pak Eko Pratomo sambil menunjuk istrinya, Bu Dian Syarief, dengan gerakan kepala. Aku mengarahkan pandanganku pada Bu Dian yang tengah lincah bergerak mengurus yayasannya, Syamsyi Dhuha. Lupus dan low vision tak membunuh semangat dan percaya dirinya. Melalui Bu Dian aku belajar, di dalam diri setiap kita sebetulnya ada cahaya yang bisa kita pantik sendiri.

Redmiller Experience - Utopia

  Alkisah di masa yang lampau, tersebutlah pulau jauh tak tersentuh bernama Utopia. Jika kini ia sedekat genggaman gawaimu, akankah kamu memasukinya?   Media sosial membingkai dunia dalam kesempurnaan semu; tampilan fisik bak dewa- dewi, pasangan yang memiliki segalanya, pencapaian instan tanpa jatuh-bangun berarti, serta kemewahan yang tak ada habisnya. Hidup di- filter sampai kehilangan teksturnya. Batas antara mimpi dan kenyataan pudar. Tanpa sadar, manusia terjebak dalam dunia ideal yang tak pernah betul-betul ada. Dalam dunia Utopia.