Langsung ke konten utama

Puisi Masa SD

"Junior" adalah majalah indie yang Dea buat bersama teman-teman. Tulisan ini dimuat di "Junior" edisi ke tiga (1993), ketika Dea masih duduk di kelas 6 SD.

Puisi ke "Menjadi Besar" sebetulnya ada lanjutannya, "Menjadi Lebih Besar Lagi", cuma buku puisinya ilang. Cerita tentang kegalauan masa remaja akibat pubertas yang super telat... atau mungkin... ya bukan telat tapi beda aja.

==============================================================

Kisah Si Burung Kecil

Kemarin kudengar burung berkicau
suaranya sungguh amat merdu
tapi burung dendangkan lagu kelabu
aku tak tahu mengapa begitu

Sekarang burung kecil sudah tak ada
yang tinggal cuma bangkainya
semua karena manusia
manusia tangannya gatal !!!

Kemarin burung kecil masih bernyanyi
sekarang sudah tak ada lagi


Menjadi Besar

Ketika di suatu tempat
biasanya sejibun bocah berkumpul padat
tak pandang laki atau perempuan
lucu seperti tak punya beban


Sekarang tempat itu tak lagi berisik
tak sarat lagi dengan orangtua yang panik
Bocah dulu sudah jadi remaja
laki perempuan tak lagi main bersama


Laki lain, perempuan lain
laki bicara ini perempuan omongin itu
tak semanis bocah-bocah dulu
bocah-bocah yang tak punya rahasia


Menjadi besar jadi berbeda
dan aku tak suka

Komentar

Postingan populer dari blog ini

In{san}ner Child

  I nsa nner Child Redmiller Experience: The Great Ocean Stories   Saat kita bertumbuh dewasa, tanpa disadari, kadang ada bagian dari emosi masa kecil kita yang tertinggal. Ia tetap menjadi bocah yang meringkuk di palung rahasia, hidup dalam zaman yang seolah membeku, dan kerap tinggal sebagai luka batin yang tak tuntas terselesaikan. Si bocah adalah sub kepribadian yang—meskipun semi mandiri—tetap terikat dengan kesadaran dewasa kita. Jika terpicu, si bocah berenang meninggalkan palung, muncul ke permukaan, dan melepaskan reaksi emosinya yang tak selalu masuk akal. Kita yang telah dewasa dan bocah dalam diri kita menanggung luka yang sama, tetapi teraduk-aduk dalam bias.  

Meniti Laras

             “Lihat, dia nggak kayak orang sakit kan?” tanya Pak Eko Pratomo sambil menunjuk istrinya, Bu Dian Syarief, dengan gerakan kepala. Aku mengarahkan pandanganku pada Bu Dian yang tengah lincah bergerak mengurus yayasannya, Syamsyi Dhuha. Lupus dan low vision tak membunuh semangat dan percaya dirinya. Melalui Bu Dian aku belajar, di dalam diri setiap kita sebetulnya ada cahaya yang bisa kita pantik sendiri.

Redmiller Experience - Utopia

  Alkisah di masa yang lampau, tersebutlah pulau jauh tak tersentuh bernama Utopia. Jika kini ia sedekat genggaman gawaimu, akankah kamu memasukinya?   Media sosial membingkai dunia dalam kesempurnaan semu; tampilan fisik bak dewa- dewi, pasangan yang memiliki segalanya, pencapaian instan tanpa jatuh-bangun berarti, serta kemewahan yang tak ada habisnya. Hidup di- filter sampai kehilangan teksturnya. Batas antara mimpi dan kenyataan pudar. Tanpa sadar, manusia terjebak dalam dunia ideal yang tak pernah betul-betul ada. Dalam dunia Utopia.