Langsung ke konten utama

SALAMATAKAKI #6: Tentang Bandung Philharmonic, tentang Terpaksa Putus ketika Sedang Sayang-sayangnya

 

BandungBergerak.id - Pernah terpaksa putus ketika sedang sayang-sayangnya? Mungkin kira-kira seperti itulah perasaan segenap tim dan pendukung Bandung Philharmonic. Finalia Concertante yang diadakan 19 November 2022 lalu di Auditorium Pusat Pembelajaran Arntz-Geise Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) merupakan konser terakhir orkestra simfoni ini. Final. Selesai.

Bandung Philharmonic berdiri hampir tujuh tahun lalu. Diinisiasi oleh Airin Efferin (pianis), bersama tiga rekan musisinya Putu Sandra Kusuma (violinis), Ronny Gunawan (flutis), dan Fauzie Wiriadisastra (komponis). Mimpi membangun orkestra simfoni profesional awalnya terasa terlalu besar dan muskil. Namun, yang tampak mustahil resmi menjadi kenyataan saat Bandung Philharmonic mengadakan konser pertamanya di Padepokan Mayang Seni Sunda, Bandung, pada 18 Januari 2015.

Tersebutlah Robert Nordling, maestro mengaba asal Amerika Serikat. Ia menyambut gembira ide membangun orkestra simfoni di Bandung. Bersama kawan baiknya, Doktor Michael Hall, akademisi dan pemain viola tingkat internasional, ia datang ke Bandung. Melalui audisi, terpilihlah musisi-musisi terbaik untuk mengisi bangku pemain Bandung Philharmonic. Selaku Direktur Artistik, Robert Nordling menyusun program konser, sementara Michael Hall secara intensif menangani pendidikan musik bagi pemain.

Tak hanya itu, Bandung Philharmonic membuka program conducting fellow. Melalui program tersebut, pengaba-pengaba muda terpilih berkesempatan belajar langsung kepada Robert Nordling sambil ikut mempersiapkan konser. Untuk para komponis, Bandung Philharmonic menggelar sayembara rutin dan mengkomisikan karya. Nantinya, karya-karya komponis ini diperkenalkan melalui konser Bandung Philharmonic.

Selama hampir tujuh tahun Bandung Philharmonic bertumbuh. Di sepanjang usianya, 16 konser besar digelar dan 18 karya diperdanakan. Pengaba, komponis, dan musisi klasik bermunculan seperti bunga-bunga di musim semi. Kesejahteraan musisi terpelihara karena para pemain Bandung Philharmonic dibayar dengan sangat layak. Memang, tak selamanya jalan yang ditempuh orkestra simfoni ini terang, lapang, dan mulus, namun bukankah cinta menjadi lebih kuat jika seluruh episodenya lengkap dengan pengalaman dan emosi?

Artikel lengkapnya dapat dibaca di sini.  


#Salamatakaki adalah kolom Sundea untuk media Bandungbergerak.id. Artikel ini merupakan salah satu esai terpilih edisi November 2022 di Bandungbergerak.id

Komentar

Postingan populer dari blog ini

In{san}ner Child

  I nsa nner Child Redmiller Experience: The Great Ocean Stories   Saat kita bertumbuh dewasa, tanpa disadari, kadang ada bagian dari emosi masa kecil kita yang tertinggal. Ia tetap menjadi bocah yang meringkuk di palung rahasia, hidup dalam zaman yang seolah membeku, dan kerap tinggal sebagai luka batin yang tak tuntas terselesaikan. Si bocah adalah sub kepribadian yang—meskipun semi mandiri—tetap terikat dengan kesadaran dewasa kita. Jika terpicu, si bocah berenang meninggalkan palung, muncul ke permukaan, dan melepaskan reaksi emosinya yang tak selalu masuk akal. Kita yang telah dewasa dan bocah dalam diri kita menanggung luka yang sama, tetapi teraduk-aduk dalam bias.  

Meniti Laras

             “Lihat, dia nggak kayak orang sakit kan?” tanya Pak Eko Pratomo sambil menunjuk istrinya, Bu Dian Syarief, dengan gerakan kepala. Aku mengarahkan pandanganku pada Bu Dian yang tengah lincah bergerak mengurus yayasannya, Syamsyi Dhuha. Lupus dan low vision tak membunuh semangat dan percaya dirinya. Melalui Bu Dian aku belajar, di dalam diri setiap kita sebetulnya ada cahaya yang bisa kita pantik sendiri.

Redmiller Experience - Utopia

  Alkisah di masa yang lampau, tersebutlah pulau jauh tak tersentuh bernama Utopia. Jika kini ia sedekat genggaman gawaimu, akankah kamu memasukinya?   Media sosial membingkai dunia dalam kesempurnaan semu; tampilan fisik bak dewa- dewi, pasangan yang memiliki segalanya, pencapaian instan tanpa jatuh-bangun berarti, serta kemewahan yang tak ada habisnya. Hidup di- filter sampai kehilangan teksturnya. Batas antara mimpi dan kenyataan pudar. Tanpa sadar, manusia terjebak dalam dunia ideal yang tak pernah betul-betul ada. Dalam dunia Utopia.