Langsung ke konten utama

Butterplies - Bukupukupu

Karya ini dibuat untuk merespons lagu "Bubbles Butterflies"-nya Bottlesmoker dan dipamerkan di pameran ini:

 

Cerita panjang tentang pamerannya Dea tulis di sini.

Judul karya Dea "Butterplies" atau "Bukupupukupu". 

Setelah baca buku yang di-display di ruang pameran, hadirin bisa main balon-balon sabun. 

Special thanks untuk Oom Dea, Papa Herman, serta sepupu Dea, Tiya, dan teman-temannya, Ekos dan Yovie, yang memungkinkan buku ini hadir dalam bentuk visual yang pantas dilihat. Mengingat motorik halus Dea butut, kalau harus kerja sendiri, hasilnya nggak akan sebagus ini.


 

Berikut adalah teks yang Dea tulis di dalam bukunya:

 

At first they were foams that roam. 
Swam across what they believed as an ocean. 
The wind found them and gave them breath of life. 
Then the foams were blown away …
 
 
  At the second they were quiet bubbles who never rumble. 
Flew across what they believed as a sky. 
The light found them and gave them rainbows. 
Then the rainbows became their wings …
 
 
At the third they were butterflies who mind the miles. 
Never floated too far, but lived their life to the fullest. 
All merriest things danced with them. 
Until …
 
 
At the end they plopped down and popped up their child-like spirit anywhere. 
Some butterflies sneaked in to your breath ... 
 
 
 ... and live in your stomach
 

 Now, 
make your own bubbles butterflies
 
 
 
 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

In{san}ner Child

  I nsa nner Child Redmiller Experience: The Great Ocean Stories   Saat kita bertumbuh dewasa, tanpa disadari, kadang ada bagian dari emosi masa kecil kita yang tertinggal. Ia tetap menjadi bocah yang meringkuk di palung rahasia, hidup dalam zaman yang seolah membeku, dan kerap tinggal sebagai luka batin yang tak tuntas terselesaikan. Si bocah adalah sub kepribadian yang—meskipun semi mandiri—tetap terikat dengan kesadaran dewasa kita. Jika terpicu, si bocah berenang meninggalkan palung, muncul ke permukaan, dan melepaskan reaksi emosinya yang tak selalu masuk akal. Kita yang telah dewasa dan bocah dalam diri kita menanggung luka yang sama, tetapi teraduk-aduk dalam bias.  

Meniti Laras

             “Lihat, dia nggak kayak orang sakit kan?” tanya Pak Eko Pratomo sambil menunjuk istrinya, Bu Dian Syarief, dengan gerakan kepala. Aku mengarahkan pandanganku pada Bu Dian yang tengah lincah bergerak mengurus yayasannya, Syamsyi Dhuha. Lupus dan low vision tak membunuh semangat dan percaya dirinya. Melalui Bu Dian aku belajar, di dalam diri setiap kita sebetulnya ada cahaya yang bisa kita pantik sendiri.

Redmiller Experience - Utopia

  Alkisah di masa yang lampau, tersebutlah pulau jauh tak tersentuh bernama Utopia. Jika kini ia sedekat genggaman gawaimu, akankah kamu memasukinya?   Media sosial membingkai dunia dalam kesempurnaan semu; tampilan fisik bak dewa- dewi, pasangan yang memiliki segalanya, pencapaian instan tanpa jatuh-bangun berarti, serta kemewahan yang tak ada habisnya. Hidup di- filter sampai kehilangan teksturnya. Batas antara mimpi dan kenyataan pudar. Tanpa sadar, manusia terjebak dalam dunia ideal yang tak pernah betul-betul ada. Dalam dunia Utopia.