Ekoilibrium
Teater Simfoni adalah bentuk pertunjukan lintas disiplin yang menyatukan kekuatan musik orkestra dengan bahasa teatrikal dalam satu pengalaman panggung yang utuh. Tidak sekadar menghadirkan musik sebagai latar, orkestra menjadi bagian aktif dari narasi—menghidupkan emosi, ritme, dan atmosfer cerita, sementara aktor, gerak, dan visual memperjelas alur dramatik yang berkembang di atasnya.
Ekoilibrium mengisahkan Eko Nomianto, lulusan terbaik FE Unpar dengan mimpi-mimpi besar, yang terkejut karena dunia nyata berseberangan dengan idealismenya. Praktik industri menabrak etika-etika bisnis yang dipelajarinya di masa kuliah. Masyarakat desa dan sistem hidupnya tak seperti stereotipe yang tergambar di kepalanya. Eko harus mengambil sikap. Jalan yang dipilihnya adalah menciptakan keseimbangan: Ekoilibrium.
Tak Kenal Maka Tak Sayang
Sejak kecil, aku jarang bersentuhan, apa lagi menyelami dunia bisnis dan industri. Maka tanpa sadar aku pun mempunya stereotipe-stereotipe tertentu mengenai bisnis, terutama koorporat.
Saat bertemu dengan dosen-dosen Fakultas Ekonomi dan mendengarkan paparan mereka, aku mendapatkan banyak sudut pandang baru. Stigma koorporat yang selama ini hidup di kepalaku tidak sepenuhnya tepat. Ada urusan etik yang perlu diangkat kembali untuk mengembalikan ekonomi pada tujuannya. Aku senang karena dapat menulis cerita sederhana yang penuh harapan serta menyoroti hal penting yang selama ini sepertinya tenggelam. Ekoilibrium adalah bentuk ideal yang mungkin belum terwujud saat ini, tetapi bisa memberi kita arah dan cita-cita.
Menyatukan berbagai disiplin seni dan genre dalam satu naskah adalah suatu tantangan tersendiri. Namun, aku senang karena setiap kolaborator menaruh hormat kepada satu sama lain dan bersedia berbagi ruang secara seimbang. Aku percaya sikap inilah yang membuat Ekoilibrium menjadi luas.
Musisi orkestra dan para penari yang berbeda kultur menemukan cara tampil bersama dengan bahasa yang tepat di panggung. Teguh Permana bermain tarawangsa bersama orkestra sambil berseni peran. Pak Ishak, yang sudah malang melintang di dunianya, dengan rendah hati mempelajari dunia baru di usia 78: pengalaman panggung pertamanya. Akting pertamanya. Menyanyi ala musikal bersama orkestra pertamanya. Aku senang karena semua kolaborator menjadi support system yang menyambut upaya keras Pak Ishak.
D'Cinnamons meluangkan waktu untuk membuat aransemen ulang bersama Fauzie Wiriadisastra agar musiknya sesuai dengan kebutuhan panggung. Kasih sang pengaba orkestra perlu belajar mengasuh berbagai disiplin seni yang hadir di panggung selain orkestra. Naskah sendiri perlu cukup lentur menyesuaikan diri, tetapi karena itulah aku belajar mendengarkan dengan hormat dan kreatif mengatur ruang dalam cerita.
Easter Egg
Btw, dua easter egg dalam naskah yang aku kasih tahu saja, deh.
- PT Alat Garis adalah anagram dari PT Gilas Rata.
- Alamanda, pemeran utama perempuan dalam Ekoilibrium tidak mempunyai ibu. Alamanda--Alam Anda--tumbuh diasuh oleh mother nature sendiri. Selain itu tarawangsa, pasangan Abah Sada, ayahnya, yang diperankan Teguh Permana, sering direpresentasikan sebagai perempuan. Maka, jika Abah Sada adalah ayah Alamanda, tarawangsa yang menggambarkan budaya adalah ibunya.
Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah,
Sundea
Bukletnya bisa diunduh dengan memindai QR Code ini:
Foto-foto: Kahla



Komentar
Posting Komentar